Advertise


ShoutMix chat widget

Jumat, 24 Juni 2011

Trauma !!

Sering  denger orang menyebut kata trauma?


Either di ucapkan dengan tampang serius, juga sambil cengengesan. Waa, serem banget!
Trauma! Kata ini kita kenal dari dulu. Cuma ajja, waktu itu nih kata kesannya berat banget ! sebuah kata yang bermakna serius, yang hanya dipergunakan oleh orang-orang tua atau orang-orang yang berprofesi dibidang medis, psikologi.

Tapi belakangan kata trauma kayaknya lebih nge-blend dengan lidah kita. Buktinya,makin hari makin banyak yang sering bilang, “aduh, gue trauma nih!”
Yap, sekarang kata trauma emang gak lagi berkesan berat. Gara-gara dicuekin gebetan, gara-gara gak belajar ketika mau ujian, atau gara-gara salah makan yang berbuntutsakit perut aja kita udah bisa ngaku-ngaku trauma.
Jadi penasaran! Masa hal-hal sepele begitu bisa dengan cepet bikin seseorang jadi trauma? Emang apaan sih arti trauma sebenernya?

Dalam berbagai kamus umum, trauma di artikan sebagai luka. Bisa luka yang bersifat fisik, juga luka yang bersifat psikologis. Kalo luka yang bersifat fisik, udah pada ngerti kan? Contohnya kurang lebih seperti luka memar akibat benturan benda tumpul begitu deh. Tapi kalo luka yang bersifat psikologis …. Wah lebih serius, bos!
Seorang tokoh psikologi dunia, Richard S. lazarus, Ph.D., dalam bukunya Stress, Apraisal, and Copimg. Ngejelasin kalo trauma yang bersifat psikologis membuat penderitanya tersiksa luar biasa. Soalnya trauma itu muncul didahului guncangan jiwa yang hebat.
“Guncangan jiwa yang hebat bisa disebabkan karena seseorang mengalami bencana yang mahadahsyat (kayak tragedy tsunami di Aceh atau tragedy gempa bumi di Yogya). Atau karena mengalami sebuah kejadian yang sangat menyakitkan yang terjadi berulang-ulang (misalnya jadi korban Bully terus menerus). Atau kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya secara mendadak (seperti ditinggal ortu/pacar yang meninggal)” jelas om Lazarus.
Lantaran jiwanya terguncang hebat, jadilah momen-momen yang “nyeremin” itu membekas dalam hati dan pikiran. Hingga klimaksnya yang bersangkutan jadi selalu cemas dan ketakutan luar biasa, jika teringat or berada pada sikon yang mirip dengan sikon ketika momen tersebut terjadi.
Nah rasa cemas dan rasa takut luar biasa ini biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Gak sehari-dua hari atau seminggu-dua minggu udah hilang. Bisa sampai bulanan bahkan tahunan tuh baru hilang. Pasalnya proses me-recovery perasaan dan otak kan nggak segampang membalik telapak tangan.
Kesimpulannya, trauma itu nggak sesimpel yang kita bayangkan, meskipun kata trauma sekarang lebih nge-Blend dengan lidah kita. Dan trauma juga nggak mungkin terjadi cuma gara-gara hal sepele. Kalo kita mengalami suatu kejadian yang bikin kita ngerasa pain, tapi besok lusa kita kita udah bisa bangkit lagi, itu sih bukan trauma namanya. Dalam hidup, jatuh-bangun-kejepit-keinjek mah wajar.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More